|
Situ Cileunca pagi hari |
Kenal Bandung? Pastilah. Paling tidak pernah mendengar
namanya, kan? Kota Paris van Java ini sejak dulu adalah salah satu daerah populer di Indonesia. Selain menawarkan wisata kuliner dan belanja, Bandung juga populer
karena keindahan alamnya. Melipir ke arah Bandung Selatan, Anda akan disuguhi pesona
wisata alam yang sangat menarik, salah satunya di bilangan Cileunca,
Pengalengan.
Pada Sabtu, 13 Oktober 2012 lalu saya dan 30 orang jurnalis dari Jakarta
berkesempatan mengunjungi Cileunca dalam press gathering yang diadakan oleh
TransTV. Matahari tepat berada dia atas ubun-ubun, ketika kami tiba di tempat
penginapan, Cileunca House. Begitu turun dari bus, yang paling terasa berbeda
adalah tiupan udaranya yang sejuk. Menyegarkan.
Sebelum masuk ke kamar masing-masing, kami menuju ke tenda
putih yang sudah dipasang tepat di samping penginapan. Kudapan ringan berupa
tape bakar saus oncom dan surabi pun sudah terhidang. Memancing selera. Hangatnya
tape berpadu pas dengan bandrek khas kota Bandung. Welcome drink itu ampuh
menghilangkan lelah dan mual akibat perjalanan yang meliuk-liuk selama lima
jam.
Kamar pun dibagi. Satu kamar untuk para undangan pria, satu kamar untuk
undangan pria, dan kamar untuk panitia. Ya, kamar kami itu berupa aula besar,
dan di sana sudah ada kasur-kasur yang disusun berdempetan, agak miriplah
dengan barak tentara.
Usai makan siang, kami diajak bermain di area seluas
lapangan sepak bola di depan penginapan. Banyak games dibuat untuk menjalin
keakraban sekaligus membunuh waktu. Sebenarnya, dalam perjalanan tadi ada yang
tiba-tiba mencuri hati kami, sebuah danau bernama Situ Cileunca. "Danaunya
keren banget, cantik alami gitu," kata salah satu teman yang sibuk berfoto
dengan latar danau yang samar-samar ditutupi kabut tipis.
|
Suasana penuh kabut di sekitar Situ |
Situ Cileunca ini berada di ketinggian 1550 meter di atas
permukaan laut serta dikelilingi oleh dua perkebunan teh Malabar yang dikelola
oleh PTPN VIII, wilayah ini berhawa sangat sejuk. Tak perlu pakai AC, dengan
suhu yang bisa mencapai 10 derajat celcius pada malam hari, pasti akan membuat
yang tak terbiasa mengigil kedinginan.
Menariknya, daerah Cileunca ini pernah sangat populer pada
zaman penjajahan dan digelari Swiss van Java. Pasalnya, penduduk di wilayah
sinilah yang pertama kali menikmati listrik. Dari mana sumber listriknya? Benar.
Dari Situ buatan seluas 180 hektar yang dibangun pada 1919-1926 itu.
Airnya
dialirkan ke sungai buatan Palayangan, dan menggerakkan turbin-turbin tiga PLTA
utama di Pengalengan. Debit airnya pun dimanfaatkan untuk cadangan sumber air
bersih. Bisa dibayangkan, saat hampir semua wilayah masih gulita, daerah
Pengalengan terang benderang dan noni-noni sibuk beraktifitas di tepi danau.
|
Sendiri di tengah Situ |
Pagi hari saat matahari mulai memerah, Situ Cileunca berubah
bak pemandian para bidadari. Bias-bias cahaya matahari jatuh menembus pohon
pinus di tepi pantai. Perlahan, kabut pekat mulai menguap meski tak benar-benar
hilang dari permukaan danau. Denyut kehidupan di Cileunca mulai terasa menggeliat ketika matahari sudah benar-benar
tinggi, yakni sekitar pukul 07.00 pagi.
|
Seorang petani sayur menunggu rekannya. |
Suasana desa yang alami terasa saat para petani sayur yang pakai jaket
dan celana panjang mulai keluar sambil membawa keranjang. Sebelum sama-sama
naik ke ladang di atas bukit, mereka duduk sambil menunggu rekannya di persimpangan.
Sementara satu per satu peternak mulai lalu lalang membawa kaleng berisi susu
sapi.
Bukit-bukit teh dan pegunungan yang mengelilingi Situ menawarkan panorama
tambahan. Sehingga tak hanya bisa menikmati keindahan danaunya, tapi wisatawan
juga disuguhi panorama pegunungan yang melatarbelakangi Situ Cileunca.
Berdiam diri di tepi Situ, menikmati kabut dan bias sinar
yang menembus pepohonan sambil menghirup udara yang bersih segar, bagaikan
semedi yang ampuh untuk menenangkan pikiran setelah lelah beraktifitas.
Menjelang sore, kami menyambangi si danau pencuri hati. Main
flying fox. Lalu turun ke danau, menyewa perahu dan mendayungnya ke seberang. Setelah
selesai urusan dayung mendayung, saatnya menikmati sesi terapi ikan.
Sambil terapi, kami sambil mengobrol dengan penduduk
setempat. Javra, 45 tahun, yang sedang menambatkan perahunya di tepi danau
memberikan cerita unik yang membuat kening kami berkerut. "Jangan pernah
berenang di danau, berbahaya!" kata dia. Kami penasaran.
|
Siap main flying fox? |
Konon, dulu pernah ada dua pria bertarung demi kekuasaan. Perkelahian mereka
disebut-sebut membuat salah satunya terbenam di danau. Dendamnya yang membara
membuatnya selalu mengambil korban dari orang yang berenang di dalam danau."Pantas
saja danau ini terlihat sangat tenang hanya terlihat beberapa perahu nelayan,
tak ada yang berenang," gumam saya.
Pagi hari ketika yang lain masih sibuk tiduran di “barak”
saya kembali menyusuri tepi danau. Di sana tampak belasan tenda warna hijau.
Ternyata ada rombongan dari suatu perusahaan yang berkemah di sana. Tapi
suasana masih sepi.
Dari obrolan sambil lalu dengan pedagang kopi di tepi danau saya
tahu larangan berenang itu sudah lama dibuat. Pernah ada yang coba-coba
melanggar akhirnya tenggelam di danau yang dalamnya mencapai15-20 meter.
"Mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian neng," kata dia. Tapi,
orang boleh percaya boleh tidak pada mitos.
Salah seorang pemandu wisata yang jadi guide kami mematahkan
mitosnya. Dia bilang larangan berenang di Situ Cileunca karena airnya yang
sangat dingin sehingga cepat membuat tubuh jadi kram. "Di bagian atas
memang terasa hangat, tapi di dalamnya dingin dan membuat badan kram,"
kata si pemandu.
|
Sebelum mendayung, pose dulu. |
Info lebih banyak, ketuk
Cara Asik Menikmati Situ Cileunca
Tulisan ini pernah dimuat di
sini